Sunday, September 20, 2015

PANEPEN (PAPAN LELAKU) WONG JAWA

Tempat-Tempat Angker & Keramat di Indonesia

Petilasan/Makam Ki Ageng Gribig. (Malang)
Makam ini terletak pada perbatasan antara Kec. Kedungkandang (desa Madyopuro) dengan Kec. Tumpang 
dan Kec. Tajinan. Ki Ageng Gribig dipercaya sebagai orang linuwih yg menumbali/memagari Kota Malang. 
Ditempat ini energi positif terasa begitu kuat. Ketika kita bersemedi atau berdzikir ditempat ini, tak jarang 
cahaya kebiru-biruan terlihat disekitar makam. Para pelaku supranatural sering melakukan olah laku ataupun 
menarik benda pusaka di tempat ini. Meskipun tempat ini mempunyai energi positif, namun tak jarang 
para pelaku supranatural di ganggu oleh jin jail disekitar tempat ini.
Pada Peringatan malam 1 syuro, Bpk walikota/bupati selalu mengadakan pertunjukan wayang kulit 
di tempat ini. menurut pengamatan orang yang pernah ke tempat tersebut, terdapat satu pusaka yg 
tertancap didalam pohon yg belum diambil/ditarik oleh para pelaku spiritual, entah mengapa..



Kali (sungai) Metro. (Malang)
Kali metro adalah anak Kali Brantas yang terletak di sepanjang Kecamatan Sukun sampai Kota Kepanjen 
Kab. Malang, namun tempat yg energinya terasa kuat berada di dsn. Bebekan ds. Bandulan Kec Sukun.
 Pada malam2 tertentu terutama pada bulan syuro, kita bisa menjumpai para pelaku supranatural yg
 melakukan tapa kungkum (berendam) untuk menyucikan diri dan untuk menambah ato memperoleh
 kekuatan supranatural. mereka yg melakukan tapa kungkum(berendam) tidak hanya bangsa manusia
 namun juga bangsa jin(pada malam 1 s/d malam 10 syuro).Di desa bebekan terdapat seorang 
linuwih yg beraliran kejawen yg dikenal dng nama "Eyang Pipo" beliau berumur kurang lebih antara 55-63th. 
Nara sumber (penulis sebelumnya) sempat mampir bersilaturahmi ke rumah Eyang Pipo, merasakan energi 
yg begitu kuat pada Beliau yg sengaja ditutup-tutupi (dikunci agar orang lain tidak tahu). beliau mempunyai 
beberapa murid dr berbagai kota. Murid - murid ini berkumpul 1 th sekali yaitu pada malam 1 syuro ato 
pada tgl 1 syuro(malam hari).



 Candi Singosari / Candi Kendedes. (Malang)
Candi Singosari terletak di desa Candi Renggo Kecamatan Singosari, Malang. Cara pembuatan 
candi Singhasari ini dengan sistem menumpuk batu andhesit hingga ketinggian tertentu selanjutnya 
diteruskan dengan mengukir dari atas baru turun ke bawah. (Bukan seperti membangun rumah seperti saat ini).
Candi ini berlokasi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, (sekitar 10km dari 
Kota Malang) terletak pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna di ketinggian 
512m dari permukaan laut.Berdasarkan penyebutannya pada Kitab Negarakertagama pupuh 37:7 dan 38:3 
serta Prasasti Gajah Mada bertanggal 1351 Masehi di halaman komplek candi, candi ini merupakan
 tempat "pendharmaan" bagi raja Singasari terakhir, Sang Kertanegara, yang mangkat pada tahun 1292 
akibat istana diserang tentara Kediri. Kuat dugaan, candi ini tidak pernah selesai dibangun.Candi Singosari 
atau yang sering disebut dengan nama Candi Ken Dedes. Candi Singosari merupakan tempat 
dimakamkannya Raja Kertanegara ( 1268 - 1292 ) sebagai Bhirawa atau dewa Syiwa dalam bentuk ganas.
Komplek percandian menempati areal 200m×400m dan terdiri dari beberapa candi. Di sisi barat laut
 komplek terdapat sepasang arca raksasa besar (tinggi hampir 4m, disebut dwarapala) dan posisi 
Gada (Senjata ) menghadap kebawah, ini menunjukkan meskipun penjaganya raksasi "RAKSASA" tapi 
masih ada rasa kasih sayang terhadap semua mahkluk hidup dan ungkapan selamat datang bagi semuanya. 
Dan posisi arca ini hanya ada di Singhasari, tidak ada di tempat ataupun kerajaan lainnya. Dan di 
dekatnya arca Dwarapala terdapat alun-alun. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa candi terletak 
di komplek pusat kerajaan. Letak candi Singhasari yang dekat dengan kedua arca dwarapala menjadi
 menarik ketika dikaitkan dengan ajaran Saiwa yang mengatakan bahwa dewa Siwa bersemayam di
 puncak Kailasa dalam wujud lingga, batas Timur terdapat gerbang dengan Ganesha atau Ganapati
 sebagai penjaganya, gerbang Barat dijaga oleh Kala dan Amungkala, gerbang Selatan dijaga 
oleh Resi Agastya, gerbang Utara dijaga oleh Batari Gori. Karena letak candi Singhasari yang 
sangat dekat dengan kedua arca tersebut yang terdapat pada jalan menuju ke gunung Arjuna,
 penggunaan candi ini diperkirakan tidak terlepas dari keberadaan gunung Arjuna dan para pertapa 
yang bersemayam di puncak gunung ini pada waktu itu.
Bangunan candi utama dibuat dari batu andesit, menghadap ke barat, berdiri pada alas 
bujursangkar berukuran 14m×14m dan tinggi candi 15m. Candi ini kaya akan ornamen ukiran, arca, 
dan relief. Di dalam ruang utama terdapat lingga dan yoni. Terdapat pula bilik-bilik lain: di utara 
(dulu berisi arca Durga yang sudah hilang), timur yang dulu berisi arca Ganesha, serta sisi selatan 
yang berisi arca Siwa-Guru (Resi Agastya). Di komplek candi ini juga berdiri arca Prajnaparamita, 
dewi kebijaksanaan, yang sekarang ditempatkan di Museum Nasional, Jakarta. Arca-arca lain berada 
di Institut Tropika Kerajaan, Leiden, Belanda, kecuali arca Agastya.
Tak jauh dari candi ini terdapat sebuah kolam sumber air Pemandian Watu Gedhe yg dipercaya 
sebagai tempat mandi Raja Singosari. Tempat ini mempunyai aura pengasihan yg kuat. Beberapa 
orang percaya Ritual Kungkum pada malam2 tertentu di tempat ini, dipercaya berguna untuk 
meningkatkan kharisma dan wibawa seorang laki-laki.

Misteri GUNUNG LAWU & Candi Sukuh & Candi Cetho (Gunung Purba)

Candi di Lereng Gunung Lawu Lebih Tua dari Candi Suku Maya?

Bramantyo - Okezone

Candi di Lereng Gunung Lawu Lebih Tua dari Candi Suku Maya?
Gunung Lawu (Foto: Bramantyo/Okezone)

KARANGANYAR - Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan Magetan, Jawa Timur menyimpan sejuta misteri.


Tak hanya Gunung Lawu yang penuh dengan misteri, bangunan yang ada di lereng Gunung Lawu inipun juga diselimuti misteri.

Seperti Keberadaan dua candi purba yang masih menjadi satu rangkaian dari misteri Gunung Lawu masih mendapat banyak respons dari para peniliti lokal maupun asing.  

Kehadiran para peneliti ini banyak menimbulkan spekulasi tentang kedua candi ini. Baik dari bentuk candi, batu yang digunakan maupun relief candi.

Menurut sejarahnya, Lawu merupakan gunung purba, dan keberadaannya dibuktikan dengan ditemukannya banyak candi dan batu besar di Kaki Lawu.

Berdasarkan hasil dari penelitian pihak asing, menurut Polet -biasa dipanggil Pak PO, sosok yang sangat dekat dengan Lawu, menyebutkan jika keberadaan Candi Cetho dan Sukuh tersebut bukan dibuat pada zaman Brawijaya.

Bahkan jauh sebelum era Brawijaya candi ini sudah ada. Saat Prabu Brawijaya menemukan candi ini, Raja Majapahit terakhir itu menambahkan bebarapa bentuk bangunan atau pahatan pada candi.

"Keanehan lain adalah hasil pahatan yang terdapat pada  relief Candi Cetho dan Sukuh sangat simple dan sederhana. Berbeda dengan pahatan jaman Majapahit yang lebih detil juga dan rapi," terang Pak Po saat ditemui Okezone,di Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (14/3/2014).

Bukti lain yang menunjukkan usia candi di bawah lereng Gunung Lawu ini tertua dibandingkan candi-candi lain di dunia, saat utusan peneliti dari Suku Maya dari Amerika Latin datang ke Candi Sukuh pada tahun 1982 silam.

Menurutnya, ketika itu peneliti dari suku maya ini datang ke candi Sukuh dengan di dampingi oleh pecinta alam asal Australia. Yang sangat tertarik dan ingin meneliti lebih lanjut adanya candi di Inonesia yang memiliki bentuk sama dengan candi pada peradaban Inca.

Mereka sengaja melakukan penelitian untuk mengetahui jarak pembuatan candi di Indonesia dengan candi yang ada di suku maya.

"Mereka mengambil sempel lumut dan batu untuk diteliti pada tahun 1982. Hasilnya sangat mengagetkan peneliti Suku Maya ini. Setelah diteliti, ternyata Candi Sukuh usianya jauh lebih tua dibandingkan dengan candi milik Suku Maya,"terangnya.   

Karena itulah banyak peneliti yang mengamini jika candi yang ada di Lawu bukan peninggalan Brawijaya, justru keberadaanya jauh sebelum Brawijaya ada.

Tak hanya itu, berbeda dengan candi lainnya, hanya candi di bawah lereng Gunung Lawu inilah yang menghadap ke arah kiblat atau ke arah barat. Sedangkan kebanyakan candi lain di Indonesia selalu menghadap ke timur.
  
Lokasi candi yang terletak di ketinggian kaki Gunung Lawu seringkali diselimuti kabut tebal yang turun dengan tiba-tiba, memiliki kesan mistis yang membuat penasaran bagi yang melihatnya.

Yang sangat menarik dari penelitian pada kedua candi adalah pahatan yang ada di candi ini bila diamati dan diteliti sudah membentuk pahatan tiga dimensi. Ini menunjukkan bahwa peradaban zaman dahulu sudah lebih dulu mengenal bentuk tiga dimensi.

Selain itu ada fenomena lain yang terjadi di sekitar Lawu. Menurut Pak Po, masyarakat sekitar lereng Gunung Lawu sering melihat sekelebat sinar (cahaya) yang membentuk portal (gerbang) yang berasal dari tiap sudut candi yang berbentuk segi delapan membentuk seperti gerbang ke atas.

"Waktu zamannya Soekarno cahaya itu sering muncul. Zaman Soeharto pun juga sering terlihat. Namun, saat ini sudah jarang terlihat," jelasnya.

Dan masyarakat kata dia, meyakini itu adalah portal atau gerbang gaib. Bahkan penelitian dari NASA, Amerika Serikat (AS), melihat bentuk bentuk Candi Sukuh dari luar bumi itu terlihat sangat beraturan.

Membentuk segi delapan. Dan dari sisi tersebut muncul cahaya di waktu-waktu tertentu membentuk suatu titik.

"Bagi yang sering keluar malam ada obyeknya sendiri yakni wisata spiritual. Diyakini itu sebagai pintu masuk dimensi lain. Namun, tidak ada yang berani mendekat. Masalahnya dulu ada yang hilang," terangnya lagi.

Menurut cerita, dahulu di Gunung Lawu ada suatu desa yang hilang. Bahkan sampai sekarang tidak pernah diketahui keberadaannya.

"Yang tersisa dan diketahui hanya dari barang peninggalannya saja seperti lumpang, peralatan dapur yang terbuat dari gerabah yang di gunakan pada abad pertengahan masih banyak yang berceceran. Tepatnya di pertengahan puncak Lawu," jelasnya.

Justru penemuan peralatan dapur yang di atas seperti lumpang dan alat makan banyak  terbuat dari batu, dan kemungkinan berasal dari zaman batu.
(put)



Ukuran Dua Candi Zaman Batu Lebih Besar dari Candi Sukuh



KARANGANYAR - Dua buah candi baru ditemukan di jarak 1,5 kilometer di atas candi Sukuh, Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Meski belum seluruh bangunannya terungkap, candi baru itu diperkirakan berusia jauh lebih tua dari bangunan candi yang ada di dunia. Analisa sementara, candi tersebut dibangun sebelum adanya peradaban manusia.


Salah satu penemu candi baru yang juga pengamat Gunung Lawu, Polet -biasa disapa Pak Po-, mengungkapkan, ihwal penemuan candi baru tersebut. Sejak sepekan, pihaknya menggali area di atas Candi Sukuh dan Candi Cetho. Dalam penggalian tersebut, rupanya ditemukan sebuah bangunan mirip candi.

Setelah yakni bangunan yang ditemukan tersebut adalah candi, pihaknya pun langsung menghubungi Dinas Kepurbakalaan Jawa Tengah dan melanjutkan penggalian. Dari analisa awal Dinas Kepurbakalaan, candi baru yang ditemukan tersebut masuk dalam katagori candi purba.

"Di atas Candi Sukuh sebelah utara ditemukan situs candi purba baru, ada di antara daerah Cemoro Pogog dan Cemoro Bulus. Terus di utara Candi Centho, kami temukan adanya sebuah sendang raja. Temuan itu memang belum ada namanya, tapi karena ditemukannya di daerah cemoro Pogog dan Cemoro bulus, maka candi tersebut dinamakan sesuai daerah di mana candi itu ditemukan," jelas Pak PO, saat ditemui Okezone di Ngargoyoso, Jumat (14/3/2014).

Dugaan candi baru itu termasuk candi purba bisa dilihat dari kontruksi bangunannya. Tidak ada goretan pahatan seperti pada bangunan candi pada umumnya. Prediksi sementara masyarakat di sana, ungkap Pak PO, candi tersebut merupakan candi purba yang dibangun saat zaman batu.

"Soalnya peradapan seperti pahat dan tatah belum ada di candi baru ini. Semua dari batu. Batunya pun belum begitu ada tatahan, jadi seperti batu gunung yang di tata jenisnya dari batu seperti fosil. Namun nanti biar Dinas Purbakala yang membuka," paparnya.

Meski tidak terdapat pahatan, diakuinya, bentuk bangunan sama dengan candi umumnya, yakni berupa stupa. Di candi tersebut juga terdapat pintu gerbang untuk pelataran, yang persis seperti Candi Sukuh. Hanya saja, ukuran candi baru tersebut diperkirakan lebih besar dari Candi Sukuh. 

Proses penggalian harus dilakukan dengan hati-hati, selain letak candi baru itu berada di ketinggian, konstruksi tanah di sana juga sangat berbahaya. Konstruksi tanah di sekitar candi baru tersebut sangat empuk dan rawan ambles.

Pak PO selama ini terlibat dalam penggalian sejarah peradaban manusia di sekitaran Gunung Lawu bersama Dinas Kepurbakalaan. Candi baru tersebut merupakan temuannya. 




Kisah Deburan Ombak Pantai Selatan yang Bisa Terdengar dari Puncak Lawu


Kisah Deburan Ombak Pantai Selatan yang Bisa Terdengar dari Puncak Lawu
Gunung Lawu (Foto: Bramantyo/Okezone)

KARANGANYAR - Puncak Lawu masih meninggalkan beragam tanya yang sampai saat ini belum banyak yang terungkap. Cerita yang berkembang di masyarakat lereng Gunung Lawu seakan tiada habisnya.


Sama persis seperti kabut yang sering menyelimutinya, misteri Lawu tetap menggelitik setiap orang yang ingin mengetahuinya. Selain banyak menyimpan misteri, Lawu juga memberi banyak manfaat bagi masyarakat sekitar. 

Kearifan budaya lokal yang masih dijaga sampai saat ini membuat gunung Lawu tetap terjaga kelestariannya sampai saat ini.

Meski termasuk gunung purba namun ekosistemnya tetap terjaga. Oleh sebab itu gunung yang memisahkan dua provinsi ini dijulukan gunung seribu misteri, seribu jamu (obat), dan seribu bunga pantas di sematkan pada Gunung Lawu.

"Berbagai macam spesies bunga langka ada di sini, termasuk anggrek hitam Lawu yang sangat langka ada di Lawu. Demikian juga banyak tanaman obat juga tumbuh subur di hutan ini," jelas Karwo, juru kunci Gunung Gandul, Sepanjang, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (14/3/2014). 

Gunung yang awalnya bernama Wukir Mahendra ini puncaknya berbentuk datar. Kondisi tersebut disebabkan karena erupsi hebat gunung ini beribu-ribu tahun lalu. Selain itu di puncak Lawu terdapat sebuah sumur misterius terkait dengan Lawu.

Menurut Karwo, sumur di puncak lawu ini bukan sembarang sumur. Konon, sumur Jalatunda ini memiliki alur sampai ke laut selatan.

"Meski namanya sumur namun bentuknya adalah sebuah gua kecil yang disebut Sumur Jolotundo. Gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam lima meter lebih dan berbentuk seperti obat nyamut atau berbentuk seperti spiral," terangnya.

Keberadaan sumur Jalatunda sangat dikeramatkan oleh masyarakat sekitar dan sering di gunakan untuk menyepi. Bentuknya adalah lubang dengan diameter sekitar tiga meter. Untuk turun ke dalam sumur harus menggunakan tali dan lampu senter karena gelap.

Di dalam sumur terdapat pintu goa dengan garis tengah 90 centimeter. Di sini bisa terdengar suara debur ombak pantai laut selatan yang jauhnya mencapai ratusan kilometer dari puncak Lawu.

"Meskipun orang awan sekalipun, bisa mendengar deburan ombak dari sumur tersebut. Bentuknya sih hanya kecil saja. Namun bisa masuk ratusan orang ke dalamnya," terang Karwo.

Selain itu hembusan nafas gunung atau malangbot Lawu ada di Pacitan Jawa Timur.
"Artinya gunung itu memang diam, tapi di dalamnya ada rongga atau lempeng dan berada di Pacitan," jelasnya. 

Kemisterian Lawu sangat banyak. Selain satu-satunya gunung yang memiliki tiga puncak Lawu, yaitu puncak Harga Dalem, Harga Dumiling dan Harga Dumilah, juga terkait jalur pendakiannya. Jalur tersebut dibuka untuk tujuan komersil yakni mempermudah jalur pendakian bagi para pecinta alam.

Namun, sebenarnya pintu masuk ke Gunung Lawu itu melalui Candi Cetho, Ngargoyoso, Karanganyar. Sedangkan jalur pendakian ke puncak lawu saat ini yaitu Cemoro Kandang di Tawangmangu, Karanganyar dan Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur bila diibaratkan rumah,merupakan bagian belakang dapur.

"Khan ada itu tradisi turun temurun nek munggah ki metua lor yen mudhun metu kidul. (jika naik Lawu lewat utara dan turunnya lewat Selatan," ujar Karwo.

Dan satu yang paling menarik dari Gunung Lawu yang membedakan dengan gunung lainnya bila diambil gambar dari sisi manapun atau sudut manapun bentuknya akan tetap sama alias tidak berubah.
(put)


NASA Lihat Cahaya Aneh di Gunung Lawu


Wow, Dari Angkasa Peneliti NASA Lihat Cahaya Aneh di Gunung Lawu
Candi Sukuh (Foto: Bramantyo/Okezone)

KARANGANYAR - Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dan Magetan, Jawa Timur, menyimpan sejuta misteri. Tak hanya gunungnya, bangunan di lereng pun juga diselimuti misteri.


Bahkan misteri terselubung di gunung yang dulunya bernama Wukir Mahendra tersebut juga diakui oleh para peneliti National Aeronautics and Space Administration (NASA), Amerika Serikat. Dari angkasa, mereka melihat penampakan cahaya segi delapan beraturan atau oktagon di lereng gunung, tepatnya di Candi Sukuh.

Dari lokasi itu pula, para peneliti NASA juga kerap melihat sinar lurus mengarah ke angkasa.

”Itu diberitahukan oleh para peneliti dari Australia saat melakukan penelitian ke Candi Sukuh. Mereka mendengar keterangan dari para peneliti NASA, karena itu mereka datang ke sini untuk menelitinya,” jelas Pemerhati Gunung Lawu, Polet, saat ditemui Okezone, di Ngargoyoso, Karanganyar.

Masyarakat sekitar, lanjut pria yang akrab disapa Pak Po itu, itu meyakini apa yang dilihat para peneliti NASA adalah gerbang portal misterius yang berasal dari titik ujung Candi Sukuh. Menurut dia, cahaya itu memang kerap muncul pada malam hari.

”Masyarakat dulu sering melihat cahaya tersebut namun tidak berani mendekat, takut hilang. Karena mendengar cerita zaman dulu ada satu desa di Lawu yang hilang dan sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. Hanya ditemukan sisa peralatan rumah tangga bertebaran di mana-mana,” jelasnya.

Menurut Pak Po, bukan rahasia lagi bila Gunung Lawu menjadi pusat spiritual budaya di tanah Jawa. Apalagi, konon puncak Lawu dipercaya sebagai tempat mukso atau menghilangnya dua raja besar di tanah Jawa, yaitu Prabu Airlangga, (Raja Kediri Lama) dan Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir).

Tak heran bila dari zaman sebelum era Majapahit sampai saat ini Gunung Lawu tetap disakralkan oleh masyarakat.

Meski mendapat julukan salah satu gunung terangker di Indonesia, menurut Pak PO, Gunung Lawu menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh masyarakat dan juga para tokoh besar Nusantara.

”Mulai zaman dulu, zaman leluhur Gunung Lawu banyak dipakai sebagai tempat spiritual. Presiden Soekarno pernah datang ke puncak Lawu. Bahkan, Pak Soeharto menjadikan Gunung Lawu sebagai tempat lelaku spiritualnya,” bebernya.

Ia membantah apa yang dilakukan itu musyrik. Menurut dia, persemedian merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Bukan mengajarkan untuk musyrik, namun sebagai orang Jawa jangan sampai Jawanya hilang. Semua hasil yang didapat itu dari Yang Maha Kuasa. Namun kita tetap harus berusaha, salah satunya dengan menyepi memohon keridhaan Allah SWT,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, Soeharto terhadap Gunung Lawu tidak diragukan lagi. Bahkan, Presiden ke-2 RI itu pun juga beristirahat selamanya di lereng Lawu.

“Pak Harto sering sekali naik ke puncak. Saya pernah mengikuti beliau naik ke puncak. Tenaganya luar biasa. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, namun Pak Harto selalu berhasil sampai puncak. Kecintaan Pak Harto pada Gunung Lawu tidak diragukan lagi. Sampai akhir hayatnya pun beliau lebih memilih dimakamkan di kaki Gunung Lawu, di kompleks Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar,” tutupnya.
Pamuksan Sri Aji Joyoboyo atau Petilasan Sri Aji Joyoboyo adalah tempat berikutnya di Kediri yang kami kunjungi setelah meninggalkan Arca Totok Kerot, melewati daerah persawahan, gerumbul dan perkampungan. Jarak kedua situs ini sekitar 2,7 km atau 6 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. Di samping gerbang masuk Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ini terdapat sebuah tempat parkir tertutup yang cukup untuk beberapa buah mobil.
Di gerbang masuk Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ada tulisan berbunyi “Mustika Pamenang, Petilasan Sang Prabu Sri Adji Djojobojo”. Dalam kisah Jawa, Jayabaya (dibaca: Joyoboyo) adalah titisan Dewa Wisnu, penguasa negara Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayah Joyoboyo bernama Gendrayana, yang adalah anak Yudayana, anak Parikesit, anak Abimanyu, anak Arjuna dari Pandawa.
Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara, yang darinya lahir Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya kemudian menurunkan raja-raja tanah Jawa, dari Kerajaan Majapahit sampai Mataram Islam. Sedangkan Dewi Pramesti menikah dengan Astradarma, Raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma, Raja Malawapati.
Tulisan pada gapura di gerbang masuk kedua Pamuksan Sri Aji Joyoboyo yang juga berbunyi “Petilasan Sang Prabu Sri Adji Djojobojo” ‘dikoreksi’ oleh Juru Kunci situs ini, karena sebuah petilasan adalah tempat dimana seseorang pernah tinggal dan lalu pergi dari tempat itu ke tempat lain. Sedangkan situs itu dipercaya sebagai tempat ‘muksa’ (hilang lenyap bersama jasadnya) Joyoboyo, dan konon jiwa Sang Raja masih berada di tempat itu.
Di sebelah kiri gapura ketiga terdapat sebuah tengara yang menceritakan sejarah singkat Pamuksan Sri Aji Joyoboyo. Beginilah seharusnya yang dilakukan oleh dinas terkait setempat pada situs-situs lainnya, yang membuat pengunjung bisa lebih mengenal situs yang mereka kunjungi.
pamuksan sri aji joyoboyo kediri
Kuncen Pamuksan Sri Aji Joyoboyo, berpeci dan berkacamata, tengah berbincang dengan mas Sanusi di pendopo di dalam kompleks situs. Di belakangnya adalah nara sumber lainnya yang dalam beberapa hal tampak lebih banyak tahu ketimbang sang Kuncen. Pak Kuncen ini meskipun gaya bicaranya sering sarkastik, namun cukup membantu dan kadang memancing tawa.
Di dalam pendopo itu terdapat sebuah tengara yang menceritakan tentang pemugaran situs Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ini oleh Keluarga Besar Hondodento dari Yogyakarta pada 22 Februari 1975, dan diresmikan pada 17 April 1976.
Pada atap bagian dalam pendopo Pamuksan Sri Aji Joyoboyo terdapat relief Kala tanpa rahang bawah, yang menunjukkan pengaruh Hindu dari Jawa Tengah. Kala atau Banaspati dari Jawa Timur biasanya lengkap dengan rahang bagian bawah. Kala adalah dewa penguasa waktu, putera Dewa Siwa, yang umumnya dikenal sebagai penjaga bangunan suci dan dipercaya sebagai penolak kekuatan jahat.
pamuksan sri aji joyoboyo kediri
Bangunan di tengah situs inilah yang dipercaya sebagai tempat Pamuksan Sri Aji Joyoboyo, yang terbagi tiga tempat yang mewakili tiga fase muksa Joyoboyo, yaitu Loka Mukso, Loka Busana, dan Loka Makuta. Loka Muksa merupakan tempat muksa atau hilangnya Joyoboyo bersama jasadnya, Loka Busana adalah tempat singgah busana Sang Prabu, dan Loka Makuta berarti tempat pelepasan mahkota raja.
Sebelumnya situs Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ini hanya berbentuk sebuah gundukan tanah. Sampai suatu saat, di tahun 1860, seorang penduduk Desa Menang bernama Warsodikromo bermimpi bahwa di area gundukan tanah itu pernah hidup seorang raja Kediri yang bernama Joyoboyo.
Di depan kanan Loka Muksa Pamuksan Sri Aji Joyoboyo seorang tampak tengah tidur di bawah rindang pepohonan, mungkin sedang tirakat untuk mengalap berkah. Mereka yang percaya bahwa situs Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ini bisa membantu memperoleh apa yang mereka inginkan, bisa bertirakat di situs ini selama beberapa hari. Pejabat dan calon pejabat pun tidak ketinggalan mengalap berkah di situs seluas 1.650 meter persegi ini.
pamuksan sri aji joyoboyo kediri
Loka Busana di Pamuksan Sri Aji Joyoboyo dengan ornamen indah yang berada di sebelah kanan dari Loka Muksa, di dalam pagar dengan kawat berduri, mungkin untuk mencegah peziarah tidur di tempat itu atau mencongkel batu untuk dijadikan jimat.
Di dalam bangunan Loka Muksa Pamuksan Sri Aji Joyoboyo terdapat lingga dan yoni yang menyatu dengan sebuah batu bulat berlubang yang menyerupai mata yang disebut manik. Tiga buah lubang pintu di Loka Muksa Pamuksan Sri Aji Joyoboyo yang melambangkan tiga tahap kehidupan manusia yang dimulai dari lahir, dewasa, dan lalu mati. Di latar belakang adalah manik yang menyatu dengan lingga – yoni (kelamin pria – wanita, lambang kesuburan dan kehidupan lahir dan batin).
Batu manik Pamuksan Sri Aji Joyoboyo melambangkan kewaskitaan Sri Aji Joyoboyo, memadukan nalar, rasa dan jiwa, dengan lubang tembus yang menunjukkan kemampuan melihat jauh ke masa depan. Terletak terpisah di belakang Pamuksan Sri Aji Joyoboyo terdapat Loka Makuta, dengan bentuk mahkota raja di bagian tengahnya.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah Raja Jawa yang konon sering berkunjung ke leluhurnya di situs Gapura1 5.Gapura2 6.Sejarah 7.Prasasti8.Bincang 9.Pendopo 10.Tirakat 11.Loka Busana 12.Sudut Belakang 13.Loka Makuta 14.Manik 15.Loka Muksa 16.Kala 17.Sisi Samping 18.Manik Loka Muksa 19.Gapura Keluar

Pamuksan Sri Aji Joyoboyo

Desa Menang, Kecamatan Pagu
Kabupaten Kediri, Jawa Timur


GUNUNG SRANDIL
Gunung Srandil,merupakan salah satu obyek wisata religius yang terdapat di kecamatan Adipala,Kabupaten Cilacap Jawa tengh.tepatnya di Desa Glempang Pasir.


Gunung srandil ini sendiri merupakan sebuah bukit berhutan,yang di dalamnya terdapat banyak tempat-tempat penembahan atau dalam bahasa jawa yaitu pesucen yang artinya tempat bersuci atau Tapa.Srandil juga dipercaya sebagai salah satu obyek wisata yang di keramatkan oleh kalangan masarakat yang mempercayainya.


Tidak hanya dari kalangan orang-orang penganut kepercayaan (kejawen) yang berziarah ke tempat ini,banyak juga dari kalangan agama hindu,Budha dan islam. bukan dari daerah sekitar tempat ini saja yang berziarah ke srandil adapun dari luar jawa seperti Sumatera,batam dan derah luar jawa lainya ada pula dari Luar Negeri yang dating ke srandil. Ada sebagian orang yang menganggap bahwa srandil adalah tempat pesugihan bersyaratkan tumbal,tapi itu hanya omong belaka.srandil merupakan tempat pertapa atau mencari suatu ketenangan batin yang dapat menyelesaikan masalah,itu pun dengan Ijin alloh SWt.(tutur Suryadi salah satu juru kunci srandil).

Srandil mengandung arti Sarana lan adil yaitu tempat utuk mengasah diri untuk mencari keadilan apa bila sudah tidak ada jalan keluar untuk sebuah masalh yang sulit di pecahkan. Konon Srandil merupakan pepunden tertua di tanah jawa.Dahulunya Srandil juga merupakan tempat penyebaran agama islam di daerah pesisir.pada masa itu daerah srandil belum ada agama islam,kebanyakan dari penduduknya beragama Hindu, buda dan sebagian merupakan kepercayaan atu kejawen.bukti dari penyebaran agama islam pada masa ini di srandil yaitu dengan adanya salah satu pepunden Syeh Maulana Murahidi atau dikenal denagn Mbah gusti Agung.

Pepunden utama Gunung Srandi ini adalah Eyang Semar atau Kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo Amung Rogo. Sedikitnya ada tujuh titik pepunden atau leluhur yang bersemayam, ketujuh titik tersebut terbagi dalam dua lokasi, yaitu lokasi dibawah ada lima titik pepunden dan dua titik lainnya ada di puncak Gunung Srandil. Kesemuanya merupakan rangkaian yang berurutan apabila hendak berziarah.

Dimulai dari Eyang Guru, atau Eyang Sukmo Sejati, atau Eyang Sukmo Sejati Kunci Sari Dana Sari yang menjadi kunci pertama atau kunci pembuka Gunung Srandil. Dilokasi inilah peziarah menyampaikan maksud dan tujuanya serta minta ijin untuk berziarah ketempat berikutnya.

Kedua adalah Eyang Gusti Agung Sultan Murahidi, ini merupakan titik gaib pertama tertua disini, letaknya disebelah Timur dalam lokasi pagar Gunung Srandil.

Ketiga adalah Nini Dewi Tunjung Sekar Sari, ini merupakan keramat murni sebagai pendamping atau istri dari Eyang Semar. Terletak dibawah sebelah Selatan dalam lokasi pagar Gunung Srandil.

Keempat adalah Eyang Semar atau Kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo Amung Rogo, tempat ini merupakan titik utama Gunung Srandil. Terletak bersebelahan dengan keramat Nini Dewi Tunjung Sari.

Berikutnya yang kelima adalah petilasan Eyang Juragan Dampu Awang, atau Sampokong, atau Sunan Kuning. Seorang juragan (saudagar) kaya dari Negeri China beragama Islam, yang dahulunya pernah singgah untuk melakukan semedi ditempat ini. Letaknya disebelah Utara sisi kiri dari pintu gerbang masuk Gunung Srandil.

Yang keenam petilasan Eyang Langlang Buana, merupakan titisan dari Dewa Wisnu yang masih ada kaitannya dengan Kerajaan Pajajaran, di Jawa Barat. Terletak dipuncak Gunung Srandil.

Titik yang ketujuh adalah Eyang Mayang Koro atau Hanoman, yang menjadi gaib murni sebagai pendamping Eyang Langlang Buana.

Bagi para Peziarah yang mempunyai kepentingan tertentu biasanya di damping oleh Juru kunci tertentu yang dan membawa sesaji yang di perlukan. 

Misteri Dan Keangkeran Alas Purwo Banyuwangi
   2 Comments


Banyuwangi - Alas Purwo, alas yang memiliki luas sebesar 434 km. merupakan salah satu taman nasional terbesar di indonesia yang menampung ribuan flora dan fauna di pulau jawa. selain dikenal dengan cagar alam yang indah. Alas Purwo juga dikenal dengan hutan terangker dan menjadi misteri yang tak terpecahkan hingga saat ini. penduduk setempat percaya bahwa ditempat ini tempat berkumpulnya jin seantero nusantara.




 Konon sejak sebelum masa penjajahan tidak ada satu orang manusia pun yang bisa pulang dengan selamat ketika memasuki Alas Purwo. bahkan manusia yang meninggal di tempat ini tidak bisa ditemukan jasadnya. bagi yang bisa keluar dengan selamat dari tempat ini maka akan mendapatkan musibah dan kecelakaan. karna mitos gaib yang melegenda, banyak orang datang kesini untuk menimba ilmu gaib dan bertapa disini. lebih dari 40 goa terdapat di tempat ini. dan hampir semuanya dihampiri orang untuk melakukan pertapaan.

Salah satu goa yang terkenal adalah Goa Istana. katanya goa ini pernah dikunjungi oleh presiden pertama indonesia yaitu Soekarno untuk bertapa dan mencari ketenangan. menurut cerita rakyat setempat disinilah bung karno bertemu dengan penguasa laut selatan yaitu Nyi Roro Kidul. pada jaman dahulu disinilah para raja raja berkumpul dan bertukar pikiran serta menenangkan diri. goa ini yang paling sering dikunjungi untuk bertapa ataupun mencari ilmu ghaib. menurut pandangan dari seorang paranormal. goa ini di jaga oleh dua prajurit bertubuh besar. dan banyak makhluk dari bangsa jin yang tinggal disini. dan di goa ini jugalah pusat dari alas purwo. bagaikan sebuah kerajaan. disinilah keratonnya.

goa istana
Dalam Goa Istana

goa istana 1

Goa Istana
Didepan Goa Istana


Makam Mbah Dowo. makam yang panjangnya 7 Meter ini terletak ditepian alas purwo. makam ini ditemukan pada tahun 1960 oleh sekelompok anak pengembala kambing yang tak sengaja tersesat di area ini. semenjak itu banyak oragn yang berkunjung dan bersemedi di tempat itu. menurut cerita makam sepanjang 7 meter ini bukan makam jasad manusia, melainkan tombak pusaka milik empu barada yang dititipkan kepada suryo bojonegoro untuk di serahkan kepada raja klungkung. untuk melawan janda berilmu hitam Calon Arang. akan tetapi suryo bojonegoro melanggar amanah dan membuka tempat pusaka sebelum sampai di istana kelungkung. hal tersebut membuat tombak pusaka tersebut kembali ke tanah tanpa bisa diambil kembali. suryo bojonegoro pun menghabiskan sisa hidupnya untuk menjaga benda pusaka tersebut.

Makam Mbah Dowo
Makam Mbah Dowo

Makam Mbah Dowo
Makam Mbah Dowo
sosok penjaga di Makam Mbah Dowo ini adalah seorang yang berpakaian seperti senopati . dia adalah yang menjaga pusaka ini.sosok ini bukan suryo bojonegoro. pusaka yang ada di dalam makam ini memiliki kekuatan yang sangat tinggi sehingga menciptakan energi yang positive disekitarnya.sehingga dijaga oleh seperti prajurit prajurit. sedangkan diluar makam mempunyai energi energi yang negative.

2 comments:

  1. Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua,
    Sengaja ingin menulis sedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang kesulitan masalah keuangan
    Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar 750juta saya sters hamper bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu dengan kyai ronggo, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KYAI RONGGO KUSUMO kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan penarikan uang gaib 3Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 3M yang saya minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada. Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya sering menyarankan untuk menghubungi kyai ronggo kusumo di 082349356043 situsnya www.ronggo-kusumo.blogspot.com agar di berikan arahan. Toh tidak langsung datang ke jawa timur, saya sendiri dulu hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sama baik, jika ingin seperti saya coba hubungi kyai ronggo kusumo pasti akan di bantu

    ReplyDelete
  2. RAHAYU,,,BILA ANDA MEMERLUKAN BANTUAN SUSUK DI TUBUH/SOAL MISTIK/PENERAWANGAN/DLL,HUB MBH ADI,BOYOLANGU TULUNG AGUNG,NO 085335045133.SEMOGA BER MANFA'AT,SILAHKAN MENCOBA,RAHAYUUU,,

    ReplyDelete